Senin, 23 Februari 2026

SKUL CHINNO


skul chinno 2010

draft lama dari tahun 2010 belum di keluarkan dan tidak sadar.. 😒


Sekarang Chinno di Purbalingga sudah sekolah n sepertinya sudah cocok n senang sekolah di skul nya yang sekarang. Alhamdulilah Chinno termasuk golongan anak yang mudah untuk beradaptasi di lingkungan baru. Terbukti baru beberapa saat Chinno menempati rumah baru, chino sudah mendapatkan teman, langsung main bersama. Tanpa ada rewel minta pulang ke wates atau menanyakan mbah putri. Padahal sebelumnya sempat khwatir, takut kalo chinno pake acara rewel. Hmm, Chinno memang putri kecil bunda yang pinter.

Di sekolah juga demikian mudahnya, alhamdulilah. Meskipun di minggu pertama latihan untuk ditinggal tanpa di tunggu harus pake mewek dulu. Tapi itu Cuma berlangsung Cuma beberapa hari saja. Selebihnya lancar.

Dulu sebelum pindah Purbalingga, Chinno sekolah Kelompok Bermain di Wates, namanya KB ALBHA. Sebenarnya chino juga sudah mulai beradaptasi n nyaman d sekolah ALBHA, tapi keadaan yang mengharuskan kami semua pindah. Hari-hari chinno sempat kosong selama 3 bulan, di rumah aja belajar sama bunda. Padahal sebenarnya chinno udah bΓͺte cuma menghabiskan waktu di rumah, udah pengen sekolah lagi, hamper tiap hari main sekolah-sekolahan sm bunda. Karena Cuma berdua tok sama bunda di rumah, bawaannya jadi ribut terus sama bunda, ayah chinno sampe bilang “ ne kakak adek pada ribut aja tiap hari.”hehehe. Bunda nya juga ga mau ngalah sii sama chinno.

And now, chinno was found her world again. Kata Bu Guru Imel waktu terima raport kemaren, untuk anak seusia chinno, chinno termasuk pinter..deugh bangganya.wkk

Bunda juga merasakan perkembangan chinno selama 3 bulaan terakhir ini. Banyak perkembangan di sisi positif maupun negative. Ibarat spongebob (si tokoh kartun sponge) semua muanya yang chinno lihat, dengar dan rasakan chinno serap semuanya. Ibaratnya belum punya saringannya untuk membedakan yang baik dan buruk. Belum bias memilah-milah perilaku mana yang baik untukku n mana yang tidak.

Di sisi positifnya, perkembangan kosakatanya pesat. Alhamdulilah. Makin pinter merangkai kata menjadi satu kalimat Tanya, seru n berita. Perkembangan pengenala warna dan bentuk. Paling tidak sudah ada sekitar 8 warna yang sudah chinno pahami, yaitu Merah, kuning, jingga, ungu, hitam, hijau, biru, putih, coklat. Bentuk yang sudah chinno benar-benar paham yaitu persegi panjang, segitiga, lingkaran, sabit, persegi. Belah ketupat kadang ingat kadang lupa.. untuk menggambar,, yang semula hanya coret-coretan tak beraturan, sekarang sudah mulai ada bentuknya. Meski banyak bentuk bulad lingkarannya. Tapi bunda beberapa kali mendapati gambar chinno sudah membentuk jadi orang, pohon, ada yang bendera (versi chinno) kalo versi bunda kayak orang berambut panjang. He. Meski masih acak adul gitu.

Mewarnai gambar juga udah sudah banyak kemajuan, yang dulu masih ngawur, gambarnya di warnai dengan satu warna full halaman.. sak halaman warnanya sama semua, tebal pula warnanya. Jadi gambar asline malah ga Nampak sama sekali. Sekarang yang di warnai hanya gambarnya saja, tidak keluar garis, Cuma masih belum bisa membedakan kalo baju, kulit tubuh, sepatu or rambut itu warnanya beda-beda, jadi semua nya warnanya masih sama. Tapi sudah tidak setebal dulu, sekarang lebih terarah.

Untuk nulis,, masih jauuhh… belumm bisa sama sekali. Kata apapun, huruf apapun, angka apapun selalu chinno tulis dengan bentuk lingkaran di jejer-jejer keik kereta api… deugh nak,,tapi bunda tetep bangga koo..he. setiap nulis selalu di barengi dengan ucapan mengeja. Tapi hasil ejaan lisannya sama bentuk tulisannya,,jauuuhhh…wkwkwkwk

Hafalan do’a chinno sudah semakin banyak. Bahkan do’a yang bunda belom ajarin chinno udah bisa duluan (di ajarin di sekolah, thanks for her teach)..

Alfatihah yang sebelumnya udah hafal meski lafadz nya masih cedal n agak ngawur, sekarang sudah semakin bagus lafadznya. Do’a sebelum n setelah makan plus artinya, akan n bangun tidur, masuk kamar mandi, do’a utk bapak ibu, dunia akherat, do’a mohon petunjuk, dll. Terkadang kalo di minta doa,, kalo lagi aga lupa lafadznya gitu,,chinno pasti bilang,” Bunda aku ga tauk”. Kalo udah gitu pasti udah mogok ga mau di koreksi ga mau melanjutkan lagi.

Kalo ngapalin lagu cepet banget, pa lagi yang di iklan tv,,weee langsung.

Yag udah chinno hafal, iklan lagu Yamaha, sosis so nice sinta n jojo, tissue basah mittu, iklan rbt nya Melinda (cinta satu malam), keong racun, haduuhh.dll.

Lagunya ST 12, ungu , d bagindas (cinta), kalo lagu anak-anak udah banyak sekali yang hafal. Chinno sampe bosan nyanyi na. sekarang lagi seneng nyanyiin lagu dewasa. Kata ayahnya sii ga papa. Yang penting nada nya benar, toh chinno belom paham makna liriknya. Bunda sii hayuuh aja, meski sedikit cemas juga.

Negatifnya,,,deugh ini nih yang bikin ayah n bunda sewot terus tiap hari,, nahan emosi lantaran perilaku chinno yang terkadang ga beraturan.

Permasalahan pokok yang belum teratasi hingga saat ini :

1. Chinno suka memukul temannya

2. Kurang bisa mengendalikan emosi, mudah marah

3. Meludahi orang

4. Kalo orang jawa bilang, “sakdetsaknyet”

5. Suka teriak-teriak, “apa” dengan nada ketus

6. Terkadang omongannya kasar.

Bunda n ayah sedang berusaha untuk memperbaiki perilaku chinno itu. Semoga lancar n berhasil.

Lagi di hipnoterapi. ammiiin

 Bunda is Back

 

Haloo, assalamualaykum wr wb.. Finally Bunda is back.. πŸ˜‹πŸ˜‹, tidak tau kenapa tetiba inget punya blog di pagi hari habis beberes rumah... hehehe.. terus buka buka chrome. waaaaah masih ada dann masih bisa login... masyaaAllah, jadi nostalgia sejenak.. 😁

meskipun dahulu juga ngga rajin nulis dan posting, tapi menengok kembali tulisan masa lalu menjadi hal yang membuat api menulis tumbuh lagi...

Terakhir Post, 2015, 11 tahun yang lalu....

wowww, masyaaAllah very long time a go..

11 tahun terakhir banyak terjadi perubahan dalam kehidupan... entah nanti akan di ceritakan detail atau tidak tergantung mood,,, hihihi..

yang jelas secara garis besar, aku sudah resign dari pekerjaanku yang dulu menjadi seorang pengajar. (postingan terakhirku adalah kegalauanku antara resign atau tetap di zona nyaman)😘

daaaaan aku berganti profesi, dari seorang Guru menjadi terapist plus berdagang atau berwirausaha, meski jualannya bukan jualan skala besar, tapi alhamdulillah bisa berpenghasilan.. dan penghasilan menjadi seorang terapis dan juga berjualan alhamdulillah jauh lebih besar daripada menjadi guru.. meski penghasilannyya juga untuk menutup kebutuhan karena biaya hidup yang semakin tinggi, biaya pendidikan yang semakin melambung,,, hmmmm, alhamdulilah, cukup..


selain berganti profesi, perubahan selanjutnya adalah aku punya baby lagi dan melahirkan di tahun 2021 yang lalu, perempuan, lucu, cantik... untuk growth nya in syaaAllah akan di post nanti.. hehe


dan setelah sekian lama vakum, aku baru tau bahwa ternyata blog sekarang ada fitur monetisasi,,, hmmm, wowwww,,, dan itu udah lama juga ternyata,, hahahaha... ga update banget ya Allah..

jadi dengan adanya monetisasi ini apakah aku akan jadi lebih rajin mencuan dan menulis,,, ???


Jumat, 18 September 2015

BIG CHOICE

Beberapa hari yang lalu... Aku membaca link di salah satu grup blogger ku... Ada ibu muda yang baru saja posting tentang keputusan besar salam hidup yang baru saja di ambilnya...
Mulai blogwalking dan membaca tulisannya.. Memang benar² keputusan yang sangat berani... Dia resign sebagai reporter di salah satu stasiun televisi yang sangat populer dengan seragam merahnya... Yang isi nya banyak di siarkan tentang berita politik, dll..
Tentu saja akan langsung terbayang betapa kerennya bekerja di stasiun tivi, betapa serunya bertualang ke berbagai macam tempat di seluruh bagian Indonesia bahkan luar negeri, dan berapa gaji seorang  reporter di stasiun tivi swasta yang sangat terkenal.
Tapi dia sia²kan begitu saja... Uuuhhh sayang sekali... Sungguh sayang sekali, melakukan resign di saat berjuta² orang ingin berada di posisinya..... Apa siiih yang dia pikirkaan??

Mungkin sebagian besar orang akan berkata/berkomentar seperti itu.

Duluuuu, aku juga berpikir seperti itu. Sayang sekali meninggalkan pekerjaan yang sudah sangat dicintai, meninggalkan teman² yang sudah menjadi keluarga.

Tapiii.. Sekarang aku paham kenapa orang² melakukan keputusan besar itu...aku mengerti di saat menjadi dan merasakan seperti mereka. Karena mereka semua, terutama para perempuan itu cinta keluarganya........ Yaaah... Mereka membuat keputusan besar itu hanya demi keluarga. Demi keluarga kecilnya.. Ada yang ingin fokus mengurus suami, menjadi istri yang taat, untuk program kehamilan, mengurus anak dan rumah tangganya, ingin lebih fokus pada pengasuhan dan pendidikan anak, dll.. Seperti kisah bunda muda itu, dia ingin fokus pada program kehamilannya dan ingin fokus mengurus suami. Karena ketika bekerja, dia hanya punya sedikit waktu saja untuk suaminya, beberapa kali mengalami keguguran karena lelah fisik.

Sebenarnya, aku sering tergoda untuk melakukan hal yang sama dengan bunda muda itu.. "Mengambil keputusan besar"
Apalagi suamiku sangat mendukung jika keputusan itu segera terlaksana.. Agar bisa fokus dengan bisnis online ku supaya bisa segera merambah ke bisnis offline, punya tempat usaha. Katanya... Mau sampai kapan berada dalam zona aman, yang tiap bulan menerima gaji. Tidak berpikir kreatif bagaimana akan memajukan bisnisnya, mencari peluang bisnis lain.

Tapii, sungguh aku belum berani, belum mampu.
Aku belum siap keluar dari zona aman.. Karena keadaan yang belum memungkinkan..

Sungguh, jika saja aku punya kekuatan, aku pasti akan segera mengambil keputusan besar itu.. Menerima anjuran hubby.. Supaya bisa fokus menjalani bisnis punya waktu lebih bersama anak, setiap saat bisa menemani mereka belajar..
Karena mau seberapa besar gaji yang istri peroleh ,seberapa banyak penghasilannya.. Tidak akan di berkahi Allah jika suami tidak ridho...
Dan aku sangat percaya akan hal itu..

Jadiiii...
Ora nduwe kesimpulan

Selasa, 15 September 2015

Belajar Senyum dari Chinno

Dari Chinno.... Anak kecil usia 7.5 tahun itu aku belajar banyak.
Banyak sekali... Namun di sini aku hanya membahas satu contoh saja, satu contoh yang membuat Bunda malu setengah mati pada diri sendiri.. Apaaaa ituuuu...??
Chinno selalu menyambutku dengan secercah senyum dan tertawa bahagia ketika melihatku saat menjemputnya pulang sekolah.. Seberapa lama aku terlambat menjemput, Chinno selalu menyambutku dengan perasaan bahagia.
Aaaahhh,, tertawa renyah dan senyum itu membuatku malu... Kenapa maluuu???
Yaaa.... Bunda malu sama Chinno yang selalu menunggu Bunda dengan sabar, terkadang menunggu sendirian di depan kantin sekolah, di pagar depan sekolah, di teras rumah depan sekolah, kadang ada satu dua temannya yang juga nunggu jemputan.. Meski jengkel karena di jemput terlambat, tapi ketika dia melihatku menjemputnya Chinno masih bisa tersenyum..
Chinno hanya beberapa kali bertanya kenapaa lama sekaliii?? Itupun ketika ndilalah aku lupa menjemput karena Chinno pulang lebih awal, dan aku menjemput di jam sekolah seperti biasanya, itu oun terlambat 15menit an.. Bayangkan berapa lama chinno menungguku...hampir dua jam... Ya Allah, Bunda macam apa aku inii... Atau pernah ketika aku lagi sakit ga bisa menjemput, dan Chinno akan bunda titipkan ke teman yang menjemput anaknya yang satu sekolah sama chinno, namun beda kelas.. Tapi ternyata Chinno ngga mau pulang sama temanku itu.. Chinno tetap menungguku.. Jadilah aku menjemputnya sendiri dengan kondisi badan yang ngga karu-karuan terlambat 1 jam lebih,, lalu bukannya minta maaf aku malah ngomel-ngomel ngga jelas... OMG, astaghfirulloh, jahatnya aku... Chinno hanya diam saja waktu itu, hanya bilang kenapa bunda terlambat jemput... Yaaah memang salahku, karena pagi nya aku belum berpesan kepadanya supaya pulang sekolah bareng temen bunda..
Sebenarnya Chinno pernah protes, kenapa jarang sekali di jemput tepat waktu. jawabanku hanya ada 2.. Yaitu 1. Bunda sengaja, karena males berdesak-desakkan dengan kendaraan lain, macet, susah cari parkir dll... 2. Bunda belum bisa keluar dari sekolah karena ada anak belum di jemput, rapat, koordinasi dan lain sebagainya... Itu jawaban di luar lupa tadii..
Dia tidak menuntut banyak dari jawabanku tadi.. Menerima apapun jawabanku kenapa jemput terlambat..
Daan dari hampir setiap hari aku terlambat menjemput itu aku mengucapkan ma'af ke Chinno bisa dihitung dengan jari..
Dari sini aku belajar dari Chinno... Belajar mengerti kondisi orang lain yang tidak bisa melakukan semua seperti yang kita maui, belajar bersabar dan bersabar lagi, belajar menutupi rasa jengkel dan marah dengan tetap tersenyum..
Alhamdulillah aku memiliki anugerah seperti Chinno..
Dia selalu mau mengerti kondisiku yang males berdesak desakkan, dll.. Dia selalu menerima jawabanku tanpa banyak debat, dia selalu bersabar menunggu..
Maaf kan Bunda ya sayaaanng..
Bunda akan terus belajar dan berusaha menjadi Bunda yang sholehah dan super untuk kamu dan adikmu...

Minggu, 03 Mei 2015

MATANG USIANYA DAHULU, BARU MASUK SD KEMUDIAN



Ada fenomena menarik belakangan ini. Beberapa orangtua berusaha memasukkan anaknya ke jenjang sekolah dasar (SD) sedini mungkin. Bahkan, ada orangtua yang ingin memasukkan anaknya yang masih berusia 4,5 tahun hanya karena si orangtua khawatir, anaknya “ketuaan” saat masuk SD. Mereka juga merasa anaknya sudah siap masuk sekolah dasar, karena sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Coba, kurang apa lagi?

Ini jelas berbeda dari Lia Boediman, M.S..C.P., Psy, D., psikolog yang menghabiskan 22 tahun waktunya di Amerika dan baru kembali ke tanah air. Meski anaknya (5,5) sudah siap masuk sekolah dasar, tapi Lia malah menundanya. Semua itu sudah dipertimbangkan dengan matang, termasuk membicarakan dengan anaknya. Ternyata, anaknya pun setali tiga uang, ia masih ingin bersekolah di TK B dan belum mau masuk SD. Anaknya pun tak masalah bila nanti teman-teman sekelasnya di TK berusia lebih muda dari dirinya. Juga tak mengapa bila teman-teman seangkatannya di TK sudah berseragam merah putih alias duduk di kelas 1 sekolah dasar.

“Kalau usianya masih segitu, biarlah jika dia masih mau di TK B. Mungkin kalau usianya sudah 6 tahunan, pertimbangan saya, lain lagi. Bukankah untuk melanjutkan ke pendidikan dasar, minimal anak harus berusia 7 tahun? Jadi, meski anak saya sudah siap, biarlah dia dimatangkan lagi aspek kognitif, bahasa, motorik, sosial-emosional, dan juga kemandiriannya. Dengan begitu, ia siap belajar dan tidak kapok karena tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah. Saya ingin menanamkan pada anak, sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Begitu juga dengan belajar, learning is fun and interesting. Dengan begitu, ketika di SD mereka akan mempunyai regulasi diri, tanggung jawab akan belajar, dan ketertarikan akan sekolah,” ungkap pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

PASTIKAN ANAK MATANG

Menurut Lia, sebelum memasuki jenjang SD, anak sebaiknya memiliki beberapa aspek kematangan bersekolah, meliputi aspek kognitif, bahasa, motorik, sosial-emosional, dan kemandirian. Jadi kemampuan anak menulis, membaca, dan berhitung saja tidak cukup. Itulah mengapa, untuk mengetahui kesiapan anak bersekolah, banyak SD yang mengharuskan para calon peserta didiknya melakukan tes kematangan sekolah.

Selain untuk kelancaran proses belajar mengajar, tes kematangan sekolah juga diperlukan untuk kebaikan anak itu sendiri. Bayangkan, secara aspek kognitif anak sudah matang, tapi dari sisi kemandirian, emosi dan aspek lainnya belum matang, sehingga akan menyulitkan dirinya dan juga pihak sekolah. IQ-nya boleh tinggi, tapi di kelas dia belum bisa melakukan toilet learning sendiri. Apakah gurunya yang harus membantu anak melakukan toilet learning? Itu jika satu anak, bagaimana bila dalam satu kelas ada beberapa anak dengan kondisi sama. Repot, kan? Tidak hanya itu. Ia juga mudah tantrum atau menangis. Meski secara kognitif ia siap, namun ketidakmatangan emosi ini akan menghambatnya saat bersosialisasi; anak akan dijauhi, tidak disukai teman-teman di sekolahnya. Bukan tidak mungkin nantinya anak menjadi malas atau mogok sekolah. Bahaya, kan?

Bila anak masuk ke sekolah yang menyeimbangkan aspek kognitif dan aspek lainnya, maka anak bisa saja mengejar ketertinggalan tersebut. Tapi bagaimana bila anak bersekolah di sekolah yang menekankan pada aspek kognitif semata? Di satu sisi kognitif anak akan semakin tinggi, tapi di sisi lain aspek yang kurang matang akan menjadi kurang terstimulasi. Akibatnya, aspek-aspek yang kurang matang akan semakin sulit berkembang, tertinggal jauh dari teman-teman lainnya yang sudah matang. Inilah yang akan menjadi masalah di kemudian hari, dimana di usia sekolah dasar anak harus terus-menerus disuruh belajar, lalu saat ujian orangtuanya stress karena sibuk belajar, menanya-nanya soal, membacakan, dan sebagainya. Nantinya, anak tidak bisa menjalin relasi sosial yang baik dengan orang lain, masih banyak dibantu, dan sulit untuk menjadi sukses.

“Ini yang tidak diinginkan, sehingga uji kematangan sebelum bersekolah perlu dilakukan.” Jadi tidak mentang-mentang bisa calistung, si kecil yang berusia 4 tahunan lantas bisa masuk sekolah dasar, ya, Bu-Pak.

KEMATANGAN MERUPAKAN PROSES

Kematangan anak untuk bersekolah merupakan proses yang terkait dengan aspek perkembangan anak secara keseluruhan dan proses ini dimulai sejak bayi. Kematangan anak harus dibina dari hal-hal kecil dan sederhana. Misalnya, anak diberi kesempatan untuk mandiri, bisa bersosialisasi, dan sebagainya. Kenalkan dan ajarkan kemampuan tersebut di rumah sesuai dengan tahapan usia perkembangannya.

Jadi, kematangan bersekolah ini tidak dinilai atau dilihat saat anak mau masuk sekolah dasar saja. Tahun depan anak mau masuk SD, lalu kematangannya dinilai 6 bulan sebelumnya. Tidak demikian. Tes-tes kematangan sekolah yang diberlakukan di beberapa SD, pada intinya untuk melihat gambaran mengenai kekurangan dan kelebihan anak tersebut. Sekolah-sekolah biasanya akan menerima anak dengan menyeleksinya sesuai standar tertentu.

Padahal, untuk mengetahui kematangan bersekolah anak dibutuhkan tenaga psikolog anak professional. Maka itu, orangtua disarankan membawa anaknya ke psikolog anak professional, meski tidak dipungkiri beberapa sekolah sudah melibatkan psikolog anak professional dalam tes itu.

Informasi kematangan bersekolah anak ini diperoleh psikolog dengan cara mewawancarai orangtua si anak mengenai perkembangannya, mendapatkan informasi dari guru TK sebelumnya, dan juga melakukan observasi pada anak langsung dengan bertanya, berinteraksi dengan bermain, dan mengobservasi lainnya. Dengan begitu dapat diketahui seperti apa perkembangan diri si anak. Selain itu, dilakukan pula tes intelegensi untuk mengetahui kemampuan kognitif anak. Lewat serangkaian proses itu dapat diperoleh rekomendasi, apakah anak sudah matang untuk melanjutkan ke jenjang SD atau tidak.

SETIAP ANAK BERBEDA

Kematangan setiap anak tentunya berbeda-beda. Selain dipengaruhi usia, juga oleh temperamen, cara belajar anak selama ini, tahap perkembangannya, serta faktor lingkungan yang mendukungnya. Umumnya, pada anak-anak normal, di usia 6-7 tahun anak sudah matang alias siap untuk bersekolah. Kecuali pada anak-anak yang mempunyai masalah dengan perkembangannya, seperti ada hambatan kognitif, bahasa, dan sebagainya, tentunya di usia 7 tahun belum bisa masuk SD karena ada masalah tersebut.

Memang, di usia 6-7 tahun itu boleh jadi ada beberapa aspek anak yang mungkin saja belum matang, tapi yang harus diingat, kematangan anak untuk bersekolah tidak dilihat dari satu aspek saja, tapi secara keseluruhan. Apalagi dalam setiap aspek, misalnya, aspek bahasa terdiri atas beberapa komponen, begitupun aspek motorik, dan sebagainya, masing-masing ada komponennya.

Jadi, bisa saja anak secara aspek kognitifnya sudah matang, namun secara sosial masih pemalu. Bukan berarti anak belum matang untuk masuk SD. Kekurangan anak atau kurang siapnya anak secara sosial tersebut masih bisa diupayakan, di-support untuk lebih matang dalam aspek tersebut.
Maka itu, pemilihan sekolah pun menjadi penting. Pilihlah sekolah yang menyeimbangkan semua aspek perkembangan anak. Tidak hanya kognitif, tapi juga aspek lainnya, sehingga semua aspek anak dapat terasah secara optimal.

KERJA SAMA ORANGTUA-SEKOLAH

Mengingat sistem pendidikan di tanah air yang cenderung kurang memberikan kematangan pada aspek lain selain kognitif, maka diperlukan kerja sama antara orangtua dan pihak sekolah (SD). Orangtua harus berperan aktif dengan cara mengenal baik anaknya, mengetahui bagaimana tahapan perkembangannya, mengetahui kekurangan dan kelebihan anaknya, sehingga orangtua tahu apa yang dapat dilakukannya atas kekurangan yang dimiliki agar menjadi lebih baik serta dapat memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Contoh, orangtua melihat anak masih kurang mandiri, maka orangtua dapat memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan hal-hal sederhana sendiri. Contoh lain, aspek sosial anak tampak masih kurang, maka anak sering-sering diajak berinteraksi dengan temannya atau orang lain.

Pihak sekolah dasar juga seharusnya bisa melihat beban-beban yang diberikan kepada muridnya agar seimbang pada setiap aspek perkembangan. Menyediakan fasilitas untuk mendukung aspek-aspek perkembangan anak, misal, menyediakan ruang bermain seperti playground atau lapangan basket untuk mengasah kemampuan motorik anak.

Memberikan pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar anak, menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan lewat bermain terutama pada usia-usia SD awal. Guru sekolah dasar juga sebaiknya mengetahui tahapan perkembangan di usia sekolah, sehingga dapat mengembangkan kemampuan anak secara keseluruhan.

INDIKATOR KEMATANGAN BERSEKOLAH
1. Aspek FISIK
· Motorik Kasar
- Bisa duduk tegap.
- Berjalan lurus dan bervariasi.
- Berlari.
- Melompat.
- Melempar.
- Memanjat.
- Naik turun tangga.
- Mengombinasi gerakan seperti lompat, jongkok, tegak dan berguling.
· Motorik Halus
- Dapat memegang pensil dengan baik.
- Menggambar orang atau sesuatu dengan lebih rapi tidak berantakan.
- Bisa makan sendiri.
- Menulis angka.
- Mewarnai.
- Menggunting.
- Menyusun lego.

2. Aspek BAHASA
- Memperkenalkan diri, nama, alamat, dan keluarga dengan jelas.
- Bercerita mengenai keadaan di rumah, sekolah, permainan, dan lain-lain.
- Menjawab pertanyaan.
- Menyanyikan lagu.
- Menyebutkan seluruh anggota badan.
- Menirukan huruf, suku kata, dan kata.

3. Aspek KOGNITIF
- Menerangkan mengenai sesuatu, misalnya kegunaan suatu benda.
- Mengenal warna.
- Mengetahui angka atau bilangan.
- Membedakan bentuk.
- Dapat mengelompokkan benda/sesuatu.
- Memahami konsep penjumlahan dan pengurangan.
- Membaca tanda-tanda umum seperti di jalan.
- Dapat berpikir lebih fleksibel dan sebab akibat.
- Rasa keingintahuan yang besar dan mencari tahu jawabannya.

4. Aspek SOSIAL-EMOSIONAL
- Bisa bermain secara interakstif dengan temannya.
- Berperilaku sesuai norma yang ada di lingkungannya.
- Menghargai adanya perbedaan maupun pendapat orang lain.
- Tidak lagi terlalu bergantung/lengket pada orangtuanya.
- Dapat menolong orang lain/temannya.
- Menunjukkan rasa setia kawan deengan temannya.
- Bisa beradaptasi di lingkungan baru seperti teman atau guru.
- Bila diberi tahu sesuatu bisa mengerti.
- Dapat berkonsentrasi maksimal 15-20 menit.
- Bisa menunggu atau menahan keinginannya.
- Dapat patuh pada aturan dan tuntutan lingkungan.

5. Aspek KEMANDIRIAN
- Sudah bisa makan sendiri.
- Pakai baju sendiri.
- Menyikat gigi sendiri.
- Toilet learning.
- Mulai dapat teratur pada rutinitas, seperti bangun tidur.

sumber:

http://www.kancilku.com/Ind//index.php?option=com_content&task=view&id=566